6.19.2008


YESUS MENGOBATI YANG SAKIT
(Inspirasi: Mat 9:9-13)

Di sebuah rumah sakit, ada seorang penderita bercakap-cakap dengan seorang dokter. Si sakit bertanya, “dokter, saya pernah membaca kisah-kisah suci dari buku orang Kristen yang berbunyi demikian: ‘Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit’. Apa maksud dari pernyataan ini dok?” Dengan tersenyum sang dokter ini menjawab: “Kamu sekarang lagi ngapa ke ruangan rumah sakit ini? Mau berobat bukan? Itu artinya, kamu perlu penyembuhan. Kamu sekarang sedang sakit. Kamu memerlukan seorang tabib atau dokter untuk disembuhkan dari penyakitmu. Gitu loh maksudnya. Ok?” Mendengar penjelasan sang dokter ini, si sakit akhirnya mengerti dan terbuka untuk mengatakan keluhan-keluhan yang diderita tubuhnya.

Pada kesempatan misa perdana kami ini, bacaan Injil berkisah tentang Matius, pemungut cukai mengikuti Yesus. Yesus memanggil Matius dengan berkata: “Ikutlah Aku!”. Matius mengikuti Yesus. Kemudian Yesus makan di rumah Matius, sedang di situ juga banyak pemungut cukai dan orang-orang berdosa makan bersama-sama Dia dan para murid-Nya. Melihat kenyataan itu, orang Farisi berkata kepada para murid Yesus: “mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Orang Farisi berpandangan bahwa orang suci tidak boleh dinajiskan oleh orang-orang berdosa seperti Matius, yang berkomplotan dengan penjajah Romawi. Namun Yesus berpandangan lain, yakni: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit”. Maka, Yesus mengajak mereka untuk mempelajari arti firman ini: “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa”. Hosea dalam bacaan pertama tadi memberi penegasan bahwa Tuhan lebih menyukai kasih setia dan pengenalan akan Dia daripada korban sembelihan dan korban bakaran. Penegasan Hosea kepada bangsa Israel ini nampaknya sejalan dengan pandangan Yesus tentang sikap Allah terhadap manusia berdosa. Allah lebih menyukai kasih setia dan pengenalan akan Dia, yang terwujud dalam tindakan baik sehari-hari. Inilah perwujudan iman, seperti yang dilakukan oleh Abraham. Dalam bacaan kedua tadi, Rasul Paulus mengambil contoh iman Abraham sebagai model iman orang Kristen. Seperti iman Abraham, orang Kristen mesti percaya penuh kepada Allah yang telah membangkitkan Yesus. Kepercayaan ini membuat orang Kristen dibenarkan oleh Allah. Kebenaran itu ditunjukkan oleh Yesus sendiri bahwa Dia datang untuk mengobati yang sakit. Yang Yesus kehendaki adalah belas kasihan, seperti yang ditunjukkan-Nya dengan memanggil Matius, si pemungut cukai tadi.

Yesus mengobati yang sakit. Kita semua adalah orang-orang berdosa yang mesti diobati oleh Yesus. Dia tidak segan-segan memanggil kita: “Ikutlah Aku”. Ada pantun begini: “Cobalah lihat bunga di taman. Sungguh indah dipandang mata. Cobalah dengar panggilan Tuhan. Sungguh indah menunggu jawaban kita.” Jika kami melihat kembali perjalanan panggilan kami. Tentu, kami menghadapi berbagai macam persoalan dalam meniti panggilan ini. Tidak jarang juga kami jatuh, ingin lari dari rangkulan kasih Yesus. Namun, kami menyadari bahwa Yesus sungguh baik hati dan penuh belas kasih, sehingga mau memakai kami menjadi imam-Nya. Puji dan syukur kepada Tuhan yang telah memanggil kami dalam tugas pelayanan ini kini dan sepanjang masa. Amin. (By P. Martin Joni, OFMCap)

Tidak ada komentar: